Home » Internasional » Cara Israel menyelamatkan Amerika Serikat dari kejatuhan

Cara Israel menyelamatkan Amerika Serikat dari kejatuhan

qq

Landscape dan point tertimbang

Deflasi [Dalam ekonomi, Deflasi adalah suatu periode dimana secara umum harga-harga menurun dan nilai uang bertambah].

 

[1]. Review – sebagai Standing Point:
Dunia boleh cemas terhadap fenomena Deflasi. Teori boleh mengatakan, deflasi bersifat kontraktif, namun, ternyata ada negara yang mempunyai pengalaman manis dengan deflasi. China membuktikan fakta dan pengalaman yang berbeda.
Far Eastern Economic Review (17/10/02) mengungkapkan, deflasi dan harga-harga murah telah menyebabkan Cina mulai menguasai ekspor dunia (Price Chopper: How Cheap Chinese Goods are Hammering the World).
Bayangkan, sebuah negara berpenduduk 1,3 milyar, di mana 700 juta di antaranya hidup di pedesaan dengan pendapatan rata-rata 285 dollar per tahun. Bandingkan dengan pendapatan per kapita rakyat AS yang hampir 40.000 dollar per tahun.
Apa implikasinya? Jelas. Kombinasi antara jumlah penduduk yang amat banyak, pendapatan per kapita yang amat rendah, dan tingkat pengangguran yang masih tinggi (sekitar tujuh persen), berimplikasi pada upah buruh dan biaya produksi yang rendah.

 

Akibat selanjutnya, terjadi deflasi secara substansial.
Cina kini tercatat sebagai negara paling powerful dalam hal deflasi. Dalam tujuh tahun terakhir, harga-harga mengalami penurunan sampai 20 persen! Pada tahun 2002 juga terjadi deflasi sekitar satu persen. Sebagai ilustrasi, sepuluh tahun lalu harga TV berwarna 21 inci 400 dollar AS, kini tak lebih dari 80 dollar! Amat murah.

 

Bagaimana mungkin negara lain bisa menyainginya? – Nyaris mustahil.
Kian murahnya biaya produksi membuat banyak perusahaan multinasional berbondong-bondang berinvestasi di Cina. Cina berubah menjadi lahan investasi (investment venue) yang paling atraktif di dunia.
Kini Cina juga telah menjelma menjadi negara produsen barang-barang industri terbesar keempat di dunia, yang hanya kalah (sementara) dari AS, Jepang, dan Jerman.
Jika tiga kekuatan ekonomi terbesar (AS, Jepang, dan Jerman) sampai mengalami deflasi, dampaknya pasti akan merembet ke negara-negara lain, termasuk Indonesia (ekspor Inflasi oleh Negara maju ke Negara Berkembang).
Dengan demikian, tak ada yang absolut dalam dunia ekonomi. Suatu fenomena bisa menjadi baik atau buruk, tergantung asumsinya. Ketika deflasi terjadi di Jepang (atau negara maju lainnya), hasilnya buruk. Namun, ketika deflasi disemai di lahan Cina, ternyata panenannya luar biasa.

 

http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=931&coid=2&caid=19&gid=4

 

[2]. China menggeser pasar AS

 

Review: 11/01/2014
Negeri tirai bambu China segera menggeser dominasi Amerika Serikat (AS) sebagai penguasa perdagangan dunia. Pada 2013 lalu, nilai perdagangan China mencapai US$ 4,2 triliun atau sekitar Rp 42.000 triliun.
AS memang belum melaporkan nilai perdagangannya secara penuh, Namun, Sulit bisa mengalahkan perdagangan China.

 

http://finance.detik.com/read/2014/01/11/112633/2464821/4/china-geser-takhta-as-jadi-penguasa-perdagangan-dunia

 

[3]. Israel turun gelanggang.

 

Israel sebagai pihak yang mengendalikan ekonomi dunia melalui Amerika Serikat (via The Fed {Federal Reserve Bank} dan perpanjangan sistemnya, yakni IMF, World Bank, konsorsium-konsorsium dan jaringan Neo-Imperialis-Kapitalis Global) tentu tidak bisa berpangku tangan melihat kebangkitan ekonomi dari Blok Timur yang kian mengancam hagemoninya.

 

https://voricomrade.wordpress.com/2015/06/13/sejarah-dominasi-israel-atas-ekonomi-dunia/

 

Manufer untuk menghadapi derap maju dari Blok Timur segera digelar; Yakni dengan meningkatkan Produksi minyak guna terciptanya “Deflasi Terukur” di AS (kompensasi pada biaya Produksi untuk turunnya pendapatan Perusahaan karena menurunnya Indeks Harga Konsumen) yang berimplikasi pada membaiknya laporan ekonomi dan berimbas pada sentimen yang mendongkrak nilai Dolar terhadap seluruh mata uang lainnya.

 

[4-a]. Mendongkrak Produksi Minyak dari Dalam Negeri:
05/05/2015, NEW YORK – Harga minyak kembali turun setelah Amerika Serikat terus meningkatkan produksinya.
David Lennox, analis Fat Prophet, mengatakan produksi minyak terus digenjot.
Data Energy Information Adminitration (EIA) menunjukkan produksi minyak Amerika Serikat (AS) terus meningkat.
AS telah memproduksi minyak sebanyak 6 juta barel per hari pada kuartal pertama tahun ini. Angka tersebut meningkat drastis dibandingkan produksi minyak AS tahun 2008 yang hanya sekitar 4,4 juta barel per hari.
Berdasarkan data dari Survey Geologi AS, Alaska sendiri masih menyimpan cadangan minyak lepas pantai terbesar di dunia yaitu sekitar 40 miliar barel.

 

http://market.bisnis.com/read/20150505/94/429871/harga-minyak-tertekan-spekulasi-peningkatan-produksi-dan-pasokan-di-as
http://pasardana.com/tag/minyak/

 

[4-b]. Melalui Negara-negara dibawah payungnya:
23 Maret 2015, Pada pembukaan perdagangan 23 Maret 2015, harga minyak dunia kembali turun. Kemerosotan harga minyak ini dipengaruhi keputusan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporter Countries/OPEC), yang dipimpin Arab Saudi, yang memilih tidak mengurangi laju produksi minyaknya, meski pasar global mengalami kelebihan pasokan.
Lebih dari itu, di tengah pergerakan harga minyak yang demikian, Arab Saudi mengatakan, pihaknya justru siap meningkatkan produksi minyak dalam beberapa bulan ke depan.
“Kami memiliki banyak pasokan minyak, dan Anda tak akan melihat pemangkasan produksi di Arab Saudi,” kata Al-Subaey setelah bertemu dengan para petinggi perusahaan minyak di India.

 

http://bisnis.tempo.co/read/news/2015/03/23/090652183/Karena-Pernyataan-Arab-Saudi-Harga-Minyak-Kembali-Turun
http://m.news.viva.co.id/news/read/574009-iran-desak-arab-saudi-segera-atasi-kejatuhan-harga-minyak
http://bisnis.liputan6.com/read/2250420/harga-belum-stabil-arab-saudi-siap-naikkan-produksi-minyak

 

[5]. Sesuai ekspektasi
Dolar Menguat – Didukung Data Ekonomi AS (Amerika Serikat Deflasi, Harga-harga Barang Terendah Sejak Oktober 2009)

 

27 February 2015, Jatuhnya harga minyak dunia (OLEH Operasi Israel ini) berimbas pada turunnya harga konsumen AS ke level deflasi (seperti yang dilaporkan Departemen Tenaga Kerja bahwa harga konsumen AS turun ke level terendah sejak Oktober 2009).
Turunnya harga konsumen AS ke level deflasi dicapai melalui turunnya harga produk energi (9,7 persen pada bulan Januari, menyusul penurunan 4,7 persen di bulan Desember 2014).

 

http://vibiznews.com/2015/02/27/amerika-serikat-deflasi-harga-harga-barang-terendah-sejak-oktober-2009/

 

[6]. Anomali terukur: Deflasi Terukur dengan bagan perbaikan data Ekonomi melahirkan sentimen positif yang menguatkan Dolar

 

12 Juni 2015, Kurs dolar AS melonjak terhadap mata uang utama lainnya karena data ekonomi yang keluar dari negara itu secara keseluruhan positif.
Seperti dilansir Reuters, Jumat (12/6/2015), estimasi awal penjualan ritel dan jasa makanan AS untuk Mei tercatat 444,9 miliar dolar AS, meningkat 1,2 persen dari bulan sebelumnya, dan 2,7 persen di atas Mei 2014, Departemen Perdagangan melaporkan pada Kamis, lapor Xinhua.
Perkiraan terbaru itu tetap di wilayah positif, menunjukkan membaiknya pasar tenaga kerja AS (dapat dicegahnya pemecatan tenaga kerja {yang biasanya digunakan untuk menekan biaya produksi}).

 

http://economy.okezone.com/read/2015/06/12/213/1164243/dolar-menguat-didukung-data-ekonomi-as

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: