Home » Internasional » Sejarah Dominasi Israel atas Ekonomi Dunia

Sejarah Dominasi Israel atas Ekonomi Dunia

Sejarah Dominasi Israel atas Ekonomi Dunia

“dan ancaman Operasi Mossad (baca, via CIA) melalui LSM dan pemuka-pemuka Khilafah Washingtoniyah (Sayap Arab Saudi cs) terhadap Indonesia“.

multi-rothschild-131112-c

14 Juni 2015,  Home-Base
Dengan pecahnya Perang Saudara Amerika Serikat (1861–1865), yang juga dikenal sebagai Perang Antar Negara Bagian, Gerakan Yahudi keluar sebagai pihak yang memenangkan perang tersebut. Melalui Keluarga Rothschild (yang dikenal sebagai sebuah dinasti bankir Yahudi-Jerman di Eropa, yang mendirikan berbagai bank dan institusi keuangan Eropa pada akhir abad ke-18), gerakan Yahudi melalui penggntian mata tukar (dari emas ke uang kertas) berhasil menguasai Amerika Serikat melalui The Fed (Federal Reserve Bank).
Dalam sebuah buku yang ditulis oleh John Hagee dari Texas dan juga ketua pendiri Christian Serikat untuk Israel, menulis:
Kongres (AS) tidak mengendalikan perekonomian Amerika. Tetapi perkonomian kita (AS) dikendalikan oleh sistem Federal Reserve. Federal Reserve tidak pernah diaudit, namun meraka benar-benar mengontrol nilai mata uang di negara ini. Sementara sebagian besar pemegang sahamnya adalah anggota dari Eastern Establishment, empat pemegang saham terbesarnya bukan orang Amerika tetapi anggota keluarga Rothschild dari Eropa. ” – John Hagee, (Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1997) p. 51.
Robert A. Heinlein menggambarkan Federal Reserve sebagai berikut:
Setiap anggota Kongres, mereka tahu dengan persis apa yang menyebabkan inflasi, tetapi meraka tidak bisa melakukan reformasi drastis dan menghentikan atau mencabut aksi Federal Reserve karena dia bisa kehilangan pekerjaan.”
Setelah berjuang selama lebih dari 230 tahun, keluarga Rothschild akhirnya berhasil memiliki hampir semua bank sentral di dunia. Hanya tiga negara di mana bank sentralnya tidak menerima tambahan modal dari dinasti Rothschild yaitu Iran, Kuba, dan Korea Utara.

perang saudara amerika12

 

706iwojima
Pasca kemenangannya dalam Perang Saudara Amerika, pada akhir Perang Dunia II, kembali Israel keluar sebagai pemenang, dimana bertolak dari kondisi saat itu, yang mana ekonomi cenderung mengerucut pada satu tumpuan kekuatan, Amerika Serikat (AS).

AS menjadi kekuatan ekonomi tunggal pada saat itu dengan memiliki cadangan emas mencapai 65 persen dari seluruh dunia.
Atas dasar peta kekuatan tersebut, kesepakatan Bretton Woods sangat kental dengan nuansa peran AS (baca, kepentingan Israel) mulai mengatur tatanan ekonomi dunia. Salah satunya, peran dolar AS sebagai satu-satunya alat pembayaran dunia.
Pada kemudiannya, Israel melalui AS pada pertemuan di Hotel Mount Washington Hotel, Kota Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat menekan dunia untuk perlunya dibentuk kerangka kerja sama ekonomi internasional baru yang akan dibangun setelah Perang Dunia II.
Pertemuan ini melahirkan “Bretton Woods Agreements” yang melahirkan IMF dan organisasi kembarannya, The International Bank for Reconstruction and Development (sekarang lebih dikenal dengan nama World Bank).
Pada awalnya, IMF hanya beranggotakan 29 negara, namun kemudian pada awal tahun 2004 anggota IMF sudah mencapai 184 negara, yang berarti hampir semua negara anggota PBB juga menjadi anggota IMF.
Dengan menggunakan Amerika untuk mengendalikan IMF dan Bank Dunia inilah pada akhirnya banyak negara terjerat utang kepada IMF (baca, Zionis) yang kemudian menggunakan mereka untuk tujuan politiknya. Proses ini disebut “Hagemoni Ekonomi.”
Israel (secara langsung pun tidak langsung) menjalankan perusahaan-perusahaan multinasional dari mulai perusahaan minuman sampai perusahaan minyak, dari perusahaan sepatu sampai perusahaan topi. Melalui cara-cara inliah mereka mengeruk penghasilan dan menjadi raksasa ekonomi di dunia.
Situasi ini dijelaskan sendiri oleh Rothschild pada tahun 1863;

Sedikit orang yang memahami sistem ini sangat tertarik pada keuntungan sistem ini atau sangat memiliki ketergantungan pada sistem ini, sehingga tidak akan ada perlawanan dari mereka.”
Sistematisasi melalui (The FED, Dolar, IMF dan World Bank) memungkinkan Israel memiliki keunggulan di atas ekonomi global.
Di bawah slogan demokrasi, Israel (melalui oknum aparatnya, Amerika-cs sebagai Polisi HAM Dunia) telah menggulingkan banyak pemerintah yang mencoba melawan sikap politiknya, dan menggantinya dengan versinya sendiri.
Kerajaan Arab Saudi, Qatar, Yordania dan Bahrain di Semenanjung Arab, Turki, Afghanistan, Libya, Pakistan dan negara-negara lain di luar Jazirah Arab sekarang berada di bawah payung Israel.
New Era – Polarisasi kekuasaan dan kekuatan
Sekarang ini, beberapa negara termasuk Rusia, Cina, Iran, Suriah dan beberapa negara Amerika Selatan bersekutu satu sama lain, dan pada entitas manapun yang mendukung poros baru ini, oleh pihak yang pro Imperialisme-Kapitalisme Zionis di diskreditkan dengan menyebutnya sebagai Axis of Evil {Komunis, Syiah, dll}).
Negara-negara ini telah menciptakan sebuah front persatuan. Dalam bidang ekonomi, Rusia menjadi anggota G-20 juga BRIC. BRIC yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, dan China sebagai kekuatan baru dalam bidang ekonomi dunia.

 

Rusia
Putin berhasil membawa Rusia keluar dari keterpurukan ekonomi dengan catatan prestasi ekonomi yang sangat gemilang.
Dengan segudang prestasi gemilang ini, tak heran bila Rusia akhirnya memperoleh pujian dari berbagai penjuru dunia. Rusia bahkan menjadi salah satu contoh negara yang sukses tanpa menggantungkan diri pada bantuan IMF.

 

Imbasnya? – 3 Juli 2012, Parlemen Rusia (sebagai counter atas operasi Intelijen AS di Rusia) membahas sebuah rancangan undang-undang (RUU) yang memaksa lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang didanai dari luar negeri didaftar sebagai “agen asing”.
RUU yang dibicarakan itu diajukan setelah Presiden Vladimir Putin, dengan menyebut para aktivis oposisi yang berdemonstrasi menentangnya didanai oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

 

Indonesia
Sedang di Indonesia, terkait LSM pro Imperialisme Kapitalisme (yang digunakan untuk mempengaruhi arah kebihakan Pemerintah {diplomasi lembut AS}) dan Ormas Pro Khilafah Washingtoniyah (yang digunakan untuk mengancam keutuhan NKRI melalui issue Khilafah {main kayu-nya AS via Arab Saudi-cs}); tentang ini, (parcial) Bachtiar, dari Dirjen Kesatuan Bangsa Dan Politik Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia seusai jadi pembicara diacara sosialisasi undang-undang nomor 17 Tahun 2013 tentang organisasi kemasyarakatan, Kamis 19/6/2014 di Tanjung Selor, menerangkan;
Memang Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Ormas yang mendapat bantuan dana dari luar negeri ini biasanya terlihat positif, tapi secara perlahan mereka akan ‘menghajar’ ideology kita.“

 

dollar_back

 

Pict: United States one-dollar bill
The symbolism is explained by the motto that appears above the Eye: Annuit Coeptis, meaning

 

“He [God] has approved [our] undertakings.”
The Eye of Providence (or the all-seeing eye of God) is a symbol showing an eye often surrounded by rays of light or a glory and usually enclosed by a triangle. It is sometimes interpreted as representing the eye of God watching over humankind (or divine providence).
In the modern era, the most notable depiction of the eye is the reverse of the Great Seal of the United States, which appears on the United States one-dollar bill.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: