Home » Afrika » Prancis dan perang sektarian di Central Africa Republik (CAR)

Prancis dan perang sektarian di Central Africa Republik (CAR)

_72350904_central_african_republic_624map_v3

Central African Republik Map

“Issue sectarian kembali terbukti sebagai ujung tombak yang paling efektif bagi kekuasaan”

Kilas balik – Review rilis berita pertanggal 15 Desember 2013
Tangan Perancis berlumur darah dari orang-orang yang tak bersalah, kekerasan sektarian antara milisi Kristen dan kelompok Muslim tampaknya makin di luar kendali di Republik Afrika Tengah (CAR).

Negara miskin dengan penduduk 4,6 juta orang itu sebenarnya telah menderita krisis pangan, dengan seperempat dari populasi dikatakan tanpa persediaan bahan makanan. Namun dengan berkobarnya pertempuran sektarian, hal tersebut menambah penderitaan negara Afrika ini.

Menteri Pertahanan Perancis Jean-Yves Le Drian, dalam kunjungan ke ibukota CAR, Bangui, pada akhir pekan lalu, memperingatkan bahwa “kekerasan sudah di luar kendali” dan bahwa negara itu sedang menghadapi “krisis kemanusiaan”.

Tapi ini adalah persis jenis kekacauan berdarah yang oleh beberapa analis telah dipredikisi justru akan terjadi karena intervensi militer Prancis di bekas koloni di Afrikanya ini.

988451_196212940567821_985398437_n

France Army – major crisis are on thr way

Sekarang ini ada 1.600 tentara Perancis di CAR, bersama dengan beberapa 3.000 pasukan Uni Afrika, tetapi pertumpahan darah tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.

Hal ini karena intervensi militer Perancis justru memicu ketegangan sektarian dan memberikan kebebasan pada kelompok-kelompok milisi Kristen yang dominan, yang dikenal sebagai “anti-Balaka”, untuk meluncurkan serangan terhadap komunitas minoritas Muslim.

Dalam beberapa insiden di Bangui selama seminggu terakhir, pos pemeriksaan militer Perancis dianggap melucuti senjata milisi Muslim, sementara membiarkan kelompok Kristen tetap bersenjata. Ada juga laporan dari penjarahan yang dilakukan oleh kelompok milisi Kristen sementara tentara Prancis berdiam diri dan hanya menonton.

Hal ini menciptakan suasana ketakutan dan ketidakamanan di kalangan komunitas minoritas Muslim. Tidak mengherankan bahwa kemudian ada laporan serangan balasan mematikan yang dilancarkan oleh kelompok Muslim terhadap pihak Kristen. Tapi tampaknya adil untuk mengatakan bahwa dominan kekerasan sedang menargetkan kelompok Muslim.

Seorang kapten Prancis mengatakan kepada BBC bahwa adalah “mudah untuk melucuti milisi Muslim daripada melucuti milisi Kristen, karena sebagian besar dari militan Muslim berada di barak-barak”. Pendekatan sepihak oleh Perancis ini meninggalkan komunitas Muslim makin rentan terhadap serangan.
car2

foto seorang korban yang tumitnya dimakan dalam sebuah amuk massa

Dalam salah satu kekerasan terbaru, 27 Muslim di kota utara Bossangoa dibunuh pada hari Kamis. Dalam pembantaian lain, enam warga Muslim tewas di sebuah rumah di desa Bohong, di Barat negara itu.

Identitas tepat dari para penyerang tidak diketahui, tetapi berbagai sumber menunjuk milisi Kristen anti-Balaka, yang telah merekrut mantan tentara yang setia kepada presiden Kristen terguling, Francoise Bozize.

Francoise Bozize digulingkan pada bulan Maret awal tahun ini oleh aliansi pemberontak yang dikenal sebagai kelompok Seleka. Kelompok Seleka (pada awalnya) adalah kelompok milisi Islam yang mendukung presiden pengganti, Michel Djotodia, dimana Michel Djotodia adalah Presiden Muslim pertama di negara mayoritas Kristen ini.

Kristen terdiri dari sekitar 40 persen dari populasi, umat Islam 15 persen, dan sisanya mengaku kepercayaan lokal.

Presiden terguling Bozize, dikabarkan tinggal di pengasingan, di Perancis, dan mendapat dukungan Perancis, setelah pada tahun 2003 mendalangi kudeta terhadap pemimpin terpilih sebelumnya, Ange Felix Patasse.

Bozize terkenal korup dan hampir tidak memiliki mandat populer, namun sisa-sisa pasukannya tetap setia dan mengisi jajaran milisi anti-Balaka.

Sebuah pendapat mengatakan, bahwa jika Bozize dikembalikan ke kursi presiden, hal tersebut akan sesuai dengan kepentingan Perancis.

CAR12

kekerasan massa

Narasi Media barat, yang dipengaruhi oleh pemerintah Perancis, cenderung menyalahkan kekacauan dan kekerasan di Negara CAR pada pemberontak Seleka.

Namun, berbagai sumber berpendapat bahwa kekerasan berbasis Kristen anti-Balaka menghasut kekerasan terhadap warga sipil Muslim selama bulan September.

Kemudian (berdasarkan issue yang berkembang {atau dikembangkan Prancis}), pejabat pemerintah Perancis mulai mengeluarkan peringatan mengerikan kepada media terkait ancaman genosida di CAR. Peringatan Prancis ini dengan mendorong “intervensi kemanusiaan” untuk membuka jalan bagi Paris melalusi Dewan Keamanan PBB untuk memilih Perancis sebagai pengemban “misi penjaga perdamaian” (di kekacauan yangmana Prancis terlibat didalamnya).

Dengan ketergesaan yang mencurigakan, pemerintah Perancis sebelum mendapat otorisasi dari DK PBB mulai mengirimkan ratusan tentaranya tiga hari sebelum tanggal otorisasi DK-PBB diberikan (otorisasi diberikan pada tanggal 5 Desember, sedang 3 hari sebelumnya Prancis telah mengirim pasukan).

Recall di bawah perintah dari Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius tidak memberikan penjelasan resmi, tapi aneh bahwa Perancis yang justru akan memulai operasi militer sekala besar di CAR.

Ditambahkan, adalah fakta yang secara luas diakui bahwa kekerasan sektarian antara Kristen dan Muslim di Republik Afrika Tengah tidak pernah terdengar sebelumnya (sebelum agenda Prancis ini).

Dengan luas lahan yang sama dengan Perancis dan dengan hanya tujuh persen dari penduduk Perancis, CAR adalah harta karun untuk eksploitasi. CAR berlimpah dengan minyak, pembangkit listrik tenaga air, pertanian, kehutanan, emas, berlian, tembaga dan mineral lainnya, SDA utama mereka antara lain bijih uranium, bahan bakar pilihan untuk energi nuklir. 80 persen dari semua produksi listrik Perancis berasal dari tenaga nuklir.

Presiden Perancis Hollande minggu ini mengatakan: “Perancis tidak datang ke CAR untuk kepentingannya sendiri. Perancis telah datang untuk membela martabat manusia,” Pernyataan itu terdengar mencurigakan.

Kebenaran yang jelas adalah Perancis telah campur tangan dalam konflik di negara CAR untuk pelanggengan agenda neo-imperialis, namun ditutupi dengan dalih kemanusiaan atas kekacauan sektarian yang ditimbulkan – untuk menutupi kriminalitas yang telanjang ini.

Demikian akan menjelaskan siapa yang merekayasa pertumpahan darah di negara tersebut, dan jejak darah yang tertumpah di sepanjang jalan ke Paris.

http://nsnbc.me/2013/12/15/france-fuels-sectarian-killing-car/

us com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: