Home » Internasional » Membaca Perubahan Jaman

Membaca Perubahan Jaman

ats62900_worldwar3

Selintas latar belakang:

Bubarnya Uni Soviet

Pasca Perang Dunia ke II, Uni Soviet menjadi satu dari dua Negara Adi-daya. Dalam perjalanannya, perbedaan kepentingan diantara Barat dan Timur (AS-USSR) memaksa kedua Negara adi-daya ini berbenturan pada era perang dingin (Cold War).

Sebagai kiblat dari Negara-negara Blok Timur, dalam usahanya untuk mempertahankan pengaruh, Uni Soviet menggelontorkan anggaran yang sedemikian besar dengan pada sisi lainnya ekonomi Soviet tergerogoti oleh inflasi tersembunyi dan kekurangan pasokan yang terjadi di mana-mana dengan juga diperparah oleh semakin meningkatnya pasar gelap yang terbuka-  yang menggerogoti ekonomi resmi.

Selain itu, biaya yang digelontorkan oleh Uni Soviet untuk men-subsidi negara-negara klien –sudah sangat berlebih-lebihan, melampaui kemampuan ekonomi Soviet sendiri. Kemudian, gelombang baru industrialisasi yang didasarkan pada teknologi informasi membuat Uni Soviet kian kelabakan dalam mengejar perimbangannya.

1457470_588372177882564_2042483997_n

Pada 1989, Moskwa kemudian  meninggalkan Doktrin Brezhnev dan lebih memilih kebijakan non-intervensi dalam urusan-urusan dalam negeri sekutu-sekutu Eropa Timurnya, yang dengan fatal membuat rezim-rezim Eropa Timur kehilangan jaminan bantuan dan intervensi Soviet apabila mereka menghadapi pemerontakan rakyatnya. Perlahan-lahan, masing-masing negara Pakta Warsawa menyaksikan pemerintahan Komunis kalah dalam pemilihan umum  di negaranya masing-masing.

Pada 1990 pemerintah Soviet telah kehilangan seluruh kendali terhadap kondisi-kondisi ekonomi. Hingga akhirnya pada 7 Februari 1990, Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet setuju untuk melepaskan monopoli atas kekuasaan.

Sebagai imbasnya, Republik-republik anggota dari Uni Soviet mulai menegaskan kedaulatan nasional mereka terhadap Moskwa, dan mulai melancarkan “perang undang-undang” dengan pemerintah pusat di Moskwa. Dalam hal ini, pemerintahan republik-republik anggota Uni Soviet membatalkan semua undang-undang negara kesatuan apabila undang-undang itu bertentangan dengan undang-undang lokal, menegaskan kendali mereka terhadap ekonomi lokal dan menolak membayar pajak kepada pemerintah pusat di Moskwa. Pergumulan ini menyebabkan macetnya ekonomi, karena garis pasokan dalam ekonomi rusak, dan menyebabkan ekonomi Soviet semakin merosot.

Upaya-upaya Gorbachev yang awalnya dimaksutkan untuk perampingan system kekuasaan dengan harapan bagi stabilitas dan kekuatan,  terbukti tidak dapat dikendalikan situasi dan justru mengakibatkan serangkaian peristiwa yang akhirnya ditutup dengan pembubaran imperium Soviet.

1459308_604529069605777_1152630192_n

Unipolar

Dengan runtuhnya Unisoviet sebagai Negara pesaing, Dunia mulai memasuki jaman baru, Dunia satu kutub (unipolar) – dimana Amerika Serikat tampil sebagai satu-satunya Negara adi-daya di dunia.

1460199_606758536026599_1850227862_n2

Multipolar

Dominasi Amerika Serikat kemudian mulai menyurut,  seiring tampilnya kekuatan-kekuatan penyeimbang baru. Keadidayaan tunggal Amerika Serikat sejak keruntuhan Uni Soviet perlahan digerogoti oleh kebangkitan ekonomi-politik-militer Rusia dan Cina di tingkat global, serta Negara-negara lain di tingkat regional.

Kemelut AS di Irak dan pecahnya krisis ekonomi berulang yang menghantam Amerika Serikat boleh jadi merupakan salah satu permulaan terbukanya kotak Pandora yang berisi anti-klimaks bagi superioritas Amerika Serikat.

Petualangan militer dengan ambisi imperialisme yang dikibarkan AS berbalik menghantam dan menggugurkan imperium yang dikibarkannya – sebagaimana banyak kekuatan besar sebelumnya.

Penggunaan dalih moralitas dan demokrasi dalam usaha mempertahankan dan melebarkan pengaruh dan pelebaran kekuasaan justru malah berbalik menohok AS sendiri – tatkala terjadi pelanggaran hak asasi manusia di Guantanamo, kesewenangan di Afghanistan dan Irak, atau standar ganda yang diterapkan terhadap Israel.

Keterpurukan AS akibat makin menjadi, dengan melebarnya kesenjangan antara idealisme dan realita, antara kebijakan luar negeri dengan keterpurukan ekonomi dalam negerinya.

Di sisi lain, beberapa negara seperti Cina, Rusia, India, Venezuela dan Iran makin memperkuat diri – sehingga makin mempertegas polarisasi dan terjadinya transformasi kekuasaan dan pengaruh, dari unipolaritas ke multipolaritas.

1233601_396544950474749_349179102_n

Rusia

Salah satu negeri yang kembali tampil dengan segenap kekuatannya adalah Rusia. Keterpurukan ekonomi pasca-Soviet kini sudah berhasil mereka atasi. Dengan efektif industri energi dan arah kebijakan politik dirasionalisasi dan dikelola oleh BUMN yang dijadikan ujung tombak perbaikan ekonomi.

Sejak 2005, Rusia malah sudah mengalahkan AS sebagai produsen minyak terbesar kedua sesudah Arab Saudi. Pendapatan dari industri minyak Rusia mencapai 679 juta dolar sehari. Banyak negara Eropa Barat bergantung pada minyak Rusia – sebagaimana hampir semua Negara di Eropa Barat tergantung pada gas Rusia. Rusia merupakan pro-duser gas terbesar di dunia yang menyumbang pada cadangan devisa sebesar 315 miliar dolar, naik dari sekitar 12 miliar pada 1999.

Reaksi Barat

Seiring dengan penguatan ekonomi Rusia, AS sebagai Negara dengan kebijakan luar negeri yang berbasis pada kepentingan dan keamanan dalam negerinya tak bisa sekadar berpangku tangan. Washington kemudian mencoba menjegal kebangkitan Rusia. Salah satu cara adalah dengan menjadikan Polandia dan Cek sebagai ranah eksperimentasi melalui penempatan sistem pertahanan rudal yang jelas-jelas diarahkan ke Moskwa.

Gedung Putih memegang erat diktum ‘Thomas Friedman’:

“Tangan tersembunyi ekonomi (Un-seen hand of economic {tangan yang tak terlihat yang menggerakan roda ekonomi dan pasar bebas}) – harus disokong dengan ‘Terong’ militerisme”.

1485085_610509732318146_927883716_n

Respon Rusia

Menatap ancaman yang datang kedepan matanya, negeri Beruang Merah Rusiapun meregangkan otot militer lawasnya untuk balas menggertak. Jam sejarah kini seakan diputar balik ke arah era Perang Dingin.

“Kami kini besar dan kaya”, jawab Putin enteng ketika dimintai komentar tentang kekhawatiran Barat terhadap Rusia.

487986_1476004722625104_271671684_n2

Vladimier Putin

Rusia bukan lagi beruang yang sekandang dengan Geng Penguin dari Madagaskar. Kini ia tampil kembali sebagai bangsa yang bangga dan berani. Berbeda dengan negara-negara Teluk yang berfoya-foya, Rusia justru berhasil menginvestasikan keuntungan hasil energinya ke arah yang menguntungkan negara untuk jangka panjang. Dari infrastruktur, teknologi, hingga militer. Keuntungan ini pun memberdayakan Rusia untuk mampu tampil sebagai kekuatan penyeimbang mumpuni terhadap AS seperti dahulu – yang tentunya dengan perbedaan mendasar antara Uni Soviet tempo doeloe dengan Rusia yang saat ini telah merasionalisasi baik system ekonomi, politik, maupun militernya.

Stalin mempersatukan Soviet di bawah Partai Komunis, Gorbachev menampilkan sosialisme-humanis, Yeltsin dengan anti-komunisme berapi-api, maka Putin justru mengembalikan semangat itu ke dalam bangsa Rusia sendiri.

Putin; “Kita akan melindungi negeri dari musuh eksternal dan mewujudkan tatanan global baru menggantikan tatanan yang (dulu pernah) menghinakan Rusia pada 1990an,” tegas Putin.- dimana kata-kata ini menyiratkan ancaman jangka panjang bagi Imperialisme-Kapitalisme-Liberalisme yang dikibarkan ‘Imperium Barat’.

Mobilisasi di bawah panji besar nasionalisme Rusia pun bertumbukan dengan kepentingan Barat dari masalah energi, militer, Kosovo, Ukraina, Asia Tengah, Timur Tengah, rudal, hingga tak ada tempat tersisa.

Putin dipuja rakyatnya, setelah Rusia berhasil bangkit dan melawan unipolaritas AS dan kembali berani dan bangga untuk berhadap-hadapan dengan Imperal Barat di setiap kesempatan.

554146_396159307179980_1106211784_n

Tingkat Regional

Moskwa mendukung Serbia sebagaimana Washington melindungi Israel. Rusia menggunakan senjata pipa energi untuk menundukkan Ukraina dan Belarusia yang membangkang terhadap Moskwa. Estonia dan Latvia diancam Rusia apabila merubuhkan tugu peringatan perang Perang Dunia II yang bagi kedua negara tersebut merupakan perlambang invasi ke negeri mereka.

Tingkat Global

Rusia tidak puas sekadar berkancah di regional, melainkan juga merambah politik dunia. Di-pancangkan-nya bendera Rusia di Kutub Utara Adalah Penegasan Rusia kepada Dunia, bahwa  Arktik adalah miliknya. Moskwa tak segan mengancam Eropa Barat yang bergantung pada energi pasokan Rusia apabila bersikukuh dengan sistem pertahanan rudal yang dianggap sebagai ancaman bagi Moskow. Kremlin juga mengaktifkan kembali pengintaian oleh pesawat-pesawat pembom ke negara-negara Barat yang telah dibekukan sejak 15 tahun terakhir.

Selain itu, Rusia juga menguji coba kembali ketangguhan rudal-rudal antar benua mereka dan berupaya menghidupkan kembali pangkalan AL mereka di Tarsus, Suriah, sebagai penegasan mereka pada Dunia,

“Bahwa Rusia, eksis di Timur Tengah.” (*berlanjut dalam keterkaitannya dengan judul “Suriah”-di bawah).

iskander

Asia Tengah (Midle Earth)

Asia Tengah bagi Rusia dan AS bak Garis Maginot yang membatasi daerah perang antara Jerman dan Perancis di masa Perang Dunia II. Kawasan ini menjadi penting bagi AS dan Rusia karena selain situasi geopolitik – juga sebab Asia Tengah memiliki kekayaan sumber daya energi yang luar biasa. Konfrontasi dunia yang mulai didasarkan pada perebutan sumber energi menempatkan Asia Tengah sebagai kawasan yang bisa menjamin keberlangsungan suatu peradaban.

Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan merupakan kawasan yang menjadi pertaruhan bagi strategi global AS dan Rusia.

Bagi Washington, kelima negara ini penting karena posisinya di antara Rusia, Cina, Pakistan, India, Iran, dan Afghanistan. Keamanan AS di Timur Tengah bergantung pada keamanan di Asia Tengah. Kebutuhan energi AS juga menempatkan Asia Tengah sebagai kawasan bernilai strategis bagi kepentingan nasionalnya.

Di Asia Tengah, AS berhadapan dengan Rusia dan China.

Secara struktural, Rusia sudah selangkah lebih maju daripada AS. Di Asia Tengah, Rusia membidani kelahiran dua organisasi regional: CSTO dan SCO.

Organisasi Traktat Keamanan Bersama (CSTO) terdiri dari Rusia, Armenia, Belarusia, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, dan Uzbekistan. Sejak 2002 mereka telah melakukan beberapa kali latihan militer bersama.

Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) didirikan untuk kerjasama keamanan dan ekonomi meliputi: Rusia, Cina, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, dan Uzbekistan. SCO menempatkan India, Iran, Mongolia, dan Pakistan sebagai pengamat dengan tawaran untuk bergabung.

SCO sebagai hasil aliansi Rusia dan Cina telah menempatkan Asia Tengah sebagai kawasan kurang ramah bagi Washington secara ekonomi maupun politik.

Dan SCO juga menunjukkan kemampuan militer mereka dengan menggelar latihan perang bersama. Bersandikan Misi Damai 2007 latihan ini melibatkan 4000 tentara, terbanyak dari Cina dan Rusia. Ini latihan kedua yang dilakukan setelah 2005 yang digelar bersama 10 ribu tentara. Rusia dan Cina bersama SCO seakan memberi pesan kepada AS:

“Kami tak bisa dipandang sebelah mata.”

Rusia makin membuat Washington gerah dengan mengembangkan rencana membentuk SCO sebagai “Klub Energi”, yang jelas mengancam kepentingan energi AS di kawasan.

Putin berhasil menyatukan Rusia dengan Kazakhstan, Turkmenistan, dan Uzbekistan dalam proyek jaringan pipa minyak dan gas. Jejaring ini  mampu menyalurkan 30 miliar meter kubik gas setahunnya dan mempertahankan dominasi Rusia sebagai penyalur dan produser gas ke Eropa Barat.

Ini merupakan pukulan telak bagi Washington dengan rencana pemipaan di bawah Laut Kaspia yang bakal memastikan suplai gas ke Barat melalui Turkmenistan, Kazakhstan, Azerbaijan, Georgia, Turki, Afghanistan, dan Pakistan.

Turkmenistan kini telah beralih ke pengaruh Rusia dan meninggalkan kebijakan “netralitas positif” sebelumnya. Sedang Kazakhstan tidak tertarik dengan proporsal AS yang diberikan di Gedung Putih untuk memperkuat jaringan pipa rancangan AS. Kazakhstan malah berkomitmen untuk menyuplai semua minyak dan gasnya ke Rusia sambil berminat bekerja sama dengan Moskow untuk memperluas pemipaan hingga ke Laut Hitam, dekat Bulgaria.

546940_168877996634649_1863767072_n

Menangkal keterdesakan ini, AS lantas memperkuat pangkalan militer mereka di Bulgaria. Namun,  Asia Tengah sudah terlanjur lepas dari tangan Washington.

Suksesi Vladimier Putin

Putin berhasil memenangkan pertarungan,  “karena mendahulukan kepentingan bersama” – yang pragmatis di antara negara Asia Tengah. Kremlin menyadari kepentingan ekonomi mereka mesti didahulukan – selama kepentingan geopolitik Rusia secara keseluruhan tidak dirugikan. Putin sangat tanggap terhadap kebutuhan keamanan dan stabilitas regional,  sehingga menghasilkan Rusia yang memiliki hubungan sehat dengan Negara-negara kawasan Asia Tengah.

Arab Spring

Adalah sebutan untuk revolusi yang menjalar di negara-negara Timur Tengah. Revolusi tersebut bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan.

Revolusi ini dicetuskan oleh pemuda-pemuda berpendidikan di masing-masing negara tersebut. Mereka menghendaki untuk mengubah sistem negara mereka – menjadi Demokrasi (gerakan ‘demokratisasi’) – Namun, hembusan musim semi arab (arab spring) yang di Libya telah memberikan keuntungan bagi Blok Barat dengan jatuhnya kilang-kilang Minyak Libya ke tangan blok Barat, mengalami kebuntuan saat membentur Suriah – sebagai Negara Sosialis-Sekuler, dengan Partai berkuasa Ba‘ath sebagai Benteng bagi Timur Jauh (Rusia) di Timur Tengah.

Suriah

Benturan diantara pengusungan demokratisasi dengan Sosialisme-Sekuler (socialism-Humanis) ini pada kemudiannya – dengan jatuhnya korban sipil (yang disengaja, tak disengaja maupun yang diagendakan oleh pihak-pihak tertentu untuk menciptakan alasan guna melakukan revolusi bersenjata pun intervensi asing ke Suriah) pecah dan tereskalasi menjadi perang sipil (proxy war-dari sisi lain).

Berbeda dengan revolusi Arab lainnya, seperti di Mesir dan Libya, dalam konflik politik Suriah begitu banyak kepentingan asing bersinggungan.

Dalam revolusi Mesir, intervensi politik asing, dalam hal ini, Amerika Serikat, tidak banyak mendapat penentangan dari negara lain, karena Mesir sejatinya memang sekutu politik Washington di Timur Tengah.

Dalam revolusi Libya, intervensi memang menjadi sebuah intervensi militer, namun sekalipun demikian, tetap tidak ada dukungan masif dari blok negara penentang, yang ada hanya sedikit suara sumbang tentang perlunya penghormatan atas kedaulatan Libya.

Namun, berbeda dengan Suriah. Konflik politik Suriah melahirkan gesekan kuat antara “Blok Barat” yang diwakili Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis dengan “Blok Timur” yang diwakili oleh Rusia dan Cina.

Gesekan kedua blok terlihat sangat kentara di sidang-sidang PBB. Rusia dan Cina selalu mem-veto setiap upaya pengutukan ataupun sangsi terhadap Rezim Bashar Al Assad dalam sidang Majelis Umum dan Dewan Keamanan PBB. Bahkan di tengah konflik, Russia menguatkan kerjasama militer dengan Suriah. Dan konsistensi maupun maneuver dari para pihak pada konflik ini senyatanya kemudian merealisasikan apa yang kita lihat sebagai “perang perpanjangan tangan” (baca: proxy war) sebagaimana Perang Korea di tahun 1950-1953, Perang Vietnam 1957-1975, dan Perang Afghanistan 1979-1989.

Blok Barat sebagai dibelakang dan penunggang Musim Semi Arab.

Kesuksesan agenda AS atas revolusi di Mesir dan Libya makin mendorong Amerika Serikat untuk terus bermain dalam proyek “Timur Tengah Baru “-nya.

Meski revolusi ini juga mengorbankan sekutu Amerika Serikat, seperti Husni Mubarak di Mesir dan Ali Abdullah Saleh di Yaman, namun proyek pendongkelan rezim otoriter di Arab terus berlanjut.

Sangatlah lugu bila kemudian para revolusioner menyebut arab spring sebagai gerakan demokratisasi di Timur Tengah (terlebih lagi menyebutnya sebagai Khilafah-i-sasi). Karena Faktanya, sekutu-sekutu Amerika Serikat dan Barat di jazirah Arab, seperti Arab Saudi, Kuwait, Oman, dsb bukan negara demokratis tetapi monarki konstitusional, yang tentu berlawanan dengan ide demokrasi sendiri, dan pengibaran bendera jihad di Libya tidak menghasilkan Khilafah sebagaimana yang diharap dan digembar-gembor dan di iklan-propagandakan, melainkan secara teknis, apapun motif pendukung gerakan ini, justru membantu AS menancapkan kukunya ke Negara-negara tersebut.

Kepentingan bisnis dan politik lebih menjadi alasan utama dibalik proyek Timur Tengah Baru (Arab Spring). Minyak dan bisnis senjata masih menjadi ambisi Blok Barat menancapkan pengaruhnya di jazirah Arab- dengan kepentingan politik (terkait kekuasaan dan pengelolaan kekuasaan)  tak kalah penting.

Suriah menjadi satu-satunya ganjalan di jazirah Arab setelah Tunisia, Mesir, dan Libya tersapu oleh arus ‘demokratisasi’ ini.

Saat sebagian besar negara-negara Arab sudah berteman dekat dengan Amerika Serikat,  Suriah justru adalah sekutu Rusia dengan Pangkalan Angkatan Laut Rusia berbasis di sana (Tarsus).

00 mol

Benturan

Blok Timur yang diwakili Rusia dan Cina, yang hadir sebagai penyeimbang dalam berbagai konflik internasional, baik di kawasan Asia Tengah yang telah dimenangkan oleh Rusia  maupun di Asia dengan naiknya China sebagai raksasa ekonomi baru – khusus untuk konflik Suriah, keterlibatan mereka bukan lagi sekedar nada-nada kritis dan retorika.

Pemerintah Suriah dominasi Partai Sosialis-Sekuler Ba’ath, dengan presiden  Bashar Al Assad saat ini, telah menjadi sekutu bagi Rusia. Hubungan mesra militer Suriah-Rusia ini diperlihatkan dengan tetap berdirinya pangkalan AL Rusia di pelabuhan Tartus sejak tahun 1963 dan Suriah sebagai pelanggan tetap Arsenal bagi Rusia.

Bagi Rusia, jatuhnya ‘pemerintahan’ Bashar Al Assad (Sosialis-sekuler) akan membuat Rusia kehilangan sekutu strategisnya dalam bidang ekonomi, politik, militer dan akan hilangnya Benteng guna membendung pengaruh Amerika Serikat di Timur Tengah – yang secara praktis – kejatuhan Suriah ke tangan Blok Barat  pada nantinya akan mengancam kemenangan yang telah di raih Rusia di kawasan Asia Tengah dan ancaman bagi pertumbuhan ekonomi China pada kawasan asia untuk selanjutnya.

a srf

Konsistensi

Selama berlangsungnya krisis Suriah, Rusia tidak berhenti menyupalai senjata ke Suriah. Konvoi kapal perang Rusia ke pelabuhan Tartus ditengarai sebagai bentuk dukungan Moskow pada Damaskus.

Sedangkan bagi Cina, selain Suriah telah menjadi mitra ekonomi dalam ekspor produk dan perluasan kontrak baru-baru ini, selain bahwa dukungan Beijing kepada Rezim Al Assad lebih kepada bentuk perlawanan terhadap Amerika Serikat yang selalu berupaya bertindak unilateral dalam berbagai masalah internasional- termasuk sudah gerahnya  Cina terhadap tindak-tanduk Amerika Serikat di Pasifik, seperti menekan sekutu Cina, Korea Utara, dalam konflik Dua Korea, bersahabat dekat dengan Taiwan yang dianggap Cina sebagai provinsi Pembangkang, dan bermain-mainnya AS dalam konflik di Laut Cina Selatan – juga adalah pembuktian bagi realisasi dari Aliansi Setrategis yang telah dibangun antara China dengan Rusia – guna membentuk Peta Baru bagi peradaban.

Putin; “Kita akan melindungi negeri (Rusia) dari musuh eksternal dan mewujudkan tatanan global baru menggantikan tatanan yang (dulu pernah) menghinakan Rusia pada 1990-an (Imperialisme-Kapitalisme-Liberalisme yang dikibarkan ‘Imperium Barat)”.

0 combat

Terkait konflik Suriah, pernyataan terakhir;

Putin; “Menyerang Suriah (adalah) sama dengan menyerang Rusia.”

“Kami punya strategi dan cara sendiri untuk melindungi sekutu kami,- Suriah, dari serangan AS. Kami siap melindungi Suriah, termasuk Perang dengan AS sekalipun,” lanjut Putin.

“Saya tidak akan menyerahkan Suriah – bahkan jika pertempuran mencapai  jalanan Moskow.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: